Dalam pembelajaran Bahasa Arab, menyimak adalah kegiatan pertama pertama yang dilakukan manusia untuk selanjutnya berkomunikasi lisan dengan sesama manusia dengan tahapan-tahapan tertentu. Melalui kegiatan menyimak manusia mengenal kata (mufrodat).
1. Pengertian Maharatul Istima’ (Kemampuan Mendengar)
Secara Etimologi menyimak (استمع-يستمع) berasal dari akar kata mendengar (سمع-يسمع) itu artinya adalah seseorang menerima suara dengan niat, dan itu didasarkan pada dia memahami dan menganalisis hal-hal. Istima’ juga diartikan ishgho artinya mendengarkan, memperhatikan atau menguping. Istima’adalah proses kegiatan manusia yang bertujuan untukmemahami, menganalisa, menafsirkan, membedakan, menyampaikan ide dan membangun pemikiran. Mendengarkan secara efektif berarti kemampuan untuk mengalihkan perhatian diri sendiri kepada orang yang berbicara.
Ada 4 hal yang perlu dipahami tentang menyimak yaitu As-Sam’u (السمع) adalah indra pendengaran. As-Sima’(السماع) dimaksudkan untuk membatasi telinga pada getaran akustik tanpa memberi perhatian atau realisasi pemikiran denganmateri audio, yang merupakan proses fisiologis murni dalam menangkap getaran yang berbeda. Al-Istima (الاستماع) adalah suatu proses di mana pendengar memberikan perhatian khusus pada semua suara yang diterima telinga, dan merupakan seni yang membutuhkan kemampuan pikiran yang kuat untuk memahami arti dari suara-suara. Al-Inshatu (الانصات) adalah tingkat mendengarkan tertinggi yang ditandai dengan perhatian yang kuat dan fokus yang intens, atau apa yang dikenal sebagai mendengarkan dengan perhatian dan kewaspadaan. Dari pemahaman makna istima’ diatas, dapat dirumuskan enam tujuan yaitu penguasan pemahaman, penjabaran, penafsiran, derivatisasi, dan peningkatan IQ.
Empat macam keterampilan menyimak pada gambar diatas merupakan gradasi yang secara metodologis juga perlu dipertimbangkan dalam proses pembelajaran. Menurut Muhammad Shalihdalam seni mendengar terdapat beragam keterampilan yang harus direalisasikan dan diterapkan kepada murid-muridnya, serta mampu memberikan motivasi dalam diri siswa untuk memahami materi dalam kegiatan mendengar. Dasar-dasar keterampilan ini terdiri dari: a) Pemahaman yang dalam, b) Proses tadzakkur c) Penguasaan d) Interaktif. Empat kemampuan diatas merupakan jenjang dalam belajar istima’. Abdul Mu’in menyebutkan tiga keterampilan yang perlu diperhatikan dan dikembangkan dalam menyimak, yaitu; 1) kompetensi mengidentifikasi bunyikata bahasa Arab dengan tepat, 2) kompetensi menirukan apa yang di dengar, dan 3 kemampuan menirukan apa yang telah didengar, dan 3) kompetensi memahami kemampuan memahami apa yang didengar. Shalah Abdul Majid memberikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran istima’ yang hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Yunus, yaitu menyimak adalah kegiatan untuk menirukan, menghafalkan, dan merangkum pokok-pokok pikirannya, serta memahami isinya.
2. Tahapan-Tahapan dalam Istima’
2.1 Latihan pengenalan (identifikasi)
Kemahiran menyimak (istima’) pada tahap pertama bertujuan agar dapat mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa Arab secara tepat. Latihan pengenalan ini sangat penting karena sistem tata bunyi bahasa Arab banyak berbeda dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang dikenal. Umumnya anak-anak Indonesia khususnya yang muslim telah mengenal bunyi-bunyi bahasa Arab sejak masa kanak-kanak, dengan adanya pelajaran membaca Al-Quran dan shalat. Namun ini tidak mengurangi pentingnya latihan tersebut, karena ternyata pengenalan mereka itu belum tuntas.
Latihan mengenal (identifikasi) ini bisa berupa latihan dengar untuk membedakan (discrimination exercises) pengan teknik mengontraskan pasangan-pasangan ucapan yang hampir sama. Misalnya: mengucapkan atau memutarkan rekaman, pelajar diminta menebak, apakah yang didengarnya itu bunyi A atau B. Contoh:
A : أليم
B : عليم
Memperdengarkan satu set yang terdiri dari 4 - 5 kata atau frasa, sebagian mengandung bunyi bahasa yang ingin dilatihkan. Murid diminta mengidentifikasi dengan menyebut nomor kata-kata yang mengandung bunyi tersebut. Misalnya, untuk mengidentifikasi bunyi (ق) guru memperdengarkan:
1.مقعد
2.مقبول
3.مكتب
Murid merespons dengan menyebutkan angka: satu, dua tiga. Variasi lain ialah, murid diminta mengidentifikasi apakah pasangan kata yang diperdengarkan oleh guru, fonem pertamanya sama atau berbeda. Misalnya:
Guru / Rekaman Murid
جبين–جميل S
زميل–جمبل S
شيمة–صيام TS
مسجد–مسرح S
Respons siswa bisa dinyatakan dengan berbagai cara :
Secara Lisan, segera setelah model selesai diperdengarkan, baik individual maupun klasikal; bisa dengan isyarat jari, misalnya untuk menyatakan angka satu dua atau tiga dan seterusnya; bisa secara tertulis; untuk kemudian diperiksa oleh guru.
2.2 Latihan mendengarkan dan menirukan
Dalam tahap permulaan, siswa dilatih untuk mendengarkan dan menirukan. Kegiatan ini dilakukan oleh guru, ketika memperkenajkan kata-kata atau pola kalimat yang baru, atau dalam waktu yang sengaja dikhususkan untuk latihan menyimak. Latihan menirukan ini difokuskan pada bunyi-bunyi bahasa yang asing bagi siswa, juga pada pengucapan vokal panjang dan pendek, bertasydid dan tidak bertasydid, yang tidak dikenal dalam bahasa Indonesia. Beberapa contoh:
Latihan pengucapan bunyi ( ق )
Guru mengucapkan murid menirukan
قلم قلم
قمر قمر
Latihan pengucapan vokal bertasydid.
Guru-Siswa
كسر- كس
كسّر- كسّر
Latihan-latihan mendengarkan dan menirukan (listen and repeat /الاستماع والترديد ) ini akan lebih efisien dan efektif kalau dilakukan di laboratorium bahasa, sebab berbagai teknik bisa dipraktekkan. Disamping itu latihan bisa dilakukan secara individual dalam waktu bersamaan, dan siswa dapat membandingkan ucapannya sendiri dengan model ucapan yang ditirunya. Pembetulan ucapan bisa dilakukan oleh siswa secara self correction.
2.3 Latihan mendengarkan dan memahami
Tahap selanjutnya, setelah siswa mengenal bunyi-bunyi bahasa dan dapat mengucapkannya, latihan menyimak bertujuan agar siswa mampu memahami bentuk dan makna dari apa yang didengarnya itu. Latihan mendengar untuk pemahaman ini dapat dilakukan dengan berbagai macam teknik, antara lain:
(a) Latihan melihat dan mendengar (انظر واسمع)
Guru memperdengarkan materi yang sudah direkam, dan pada waktu yang sama memperlihatkan rangkaian gambar yang mencerminkan arti dan isi materi yang didengar oleh siswa tadi. Gambar-gambar tersebut bisa berupa film-strip, slide, gambar dinding dan sebagainya.
(b) Latihan membaca dan mendengar (اقرأ واسمع)
Guru memperdengarkan materi bacaan yang sudah direkam dan siswa membaca teks (dalam hati) mengikuti materi yang diperdengarkan. Pada tingkat permulaan, perbendaharaan kata-kata yang dimiliki siswa masih terbatas. Oleh karena itu, harus dipilihkan bahan yang pendek-pendek, mungkin berupa percakapan sehari-hari atau ungkapan-ungkapan sederhana yang tidak terlalu kompleks.
(c) Latihan mendengarkan dan memeragakan ( اقرأ ومثّل)
Dalam latihan ini, siswa diminta melakukan gerakan atau tindakan non verbal sebagai jawaban terhadap stimulus yang diperdengarkan oleh guru. Kegiatan ini tidak terbatas pada ungkapan sehari-hari digunakan oleh guru dalam kelas seperti:
اقرأ – أقفل الكتاب – اجلس – اكتبوا – امسح السبورة – افتح الشباك
Ketiga jenis latihan yang bam saja disebutkan, adalah latihan permulaan bagi jenis latihan berikutnya, yakni latihan pemahaman ( فهم المسموع ) yang lebih luas.
(d) Latihan mendengarkan dan mamahami
Pada akhirnya, mendengarkan sesuatu adalah untuk memperoleh informasi. Infofmasi itu mungkin tersurat/ekplisit, dinyatakan seeafa jelas. Tetapi mungfcin juga tersirat/implisit, yang memerlukan pengamatan dan penilaian lebih jauh.
Untuk melatih Maharatul Istima' kita semua, dapat berlatih pada vidio berikut:
3. Materi Istima’ dalam Bahasa Arab di Indonesia
Secara umum, pembelajaran materi istima’di Indonesia dapat disajikan dalam lima fase sebagai berikut:
3.1 Fase pengenalan
Pada fase ini dikenalkan bunyi-bunyi huruf Arab baik yang tunggal maupun yang sudah disambung dengan huruf-huruf lain dalam kata-kata. Dalam hal ini guru dituntut untuk memberikan contoh pengucapan bunyi dengan baik dan benar, lalu diikuti oleh para pelajar. Akan baik jika menggunakan alat bantu kaset atau gambar-gambar tentang kata- kata yang dimaksud. Ada beberapa aspek bunyi yang sampai pada saat ini terkadang menjadi masalah dalam mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa asing.
3.2 Fase pemahaman permulaan
Pada fase ini para pelajar diajak untuk memahami pembicaraan sederhana yang dilontarkan oleh guru tanpa respon lisan, tetapi dengan perbuatan. Sebagai tahap permulaan, merespon dengan perbuatan dipandang lebih ringan dibandingkan dengan lisan. Bentuk respon perbuatan ini dapat berupa:
1) Melakukan perintah secara fisik.
2) Bereaksi pada seruan.
3) Menjawab pertanyaan secara tertulis atau melakukan perintah dengan tulisan atau menggambar di atas kertas.
3.3 Fase pemahaman pertengahan
Pada fase ini pelajar diberi pertanyaan- pertanyaan secara lisan atau tertulis. Semantara itu kegiatan-kegiatan yang bisadilakukan pada fase ini adalah:
1) Guru membacakan bacaan pendek ataumemutar rekaman. Setelah itu gurumemberikan pertanyaan-pertanyaanmengenai isi bacaan/rekaman tersebut. Jawaban pelajar bisa berbentuk lisan atautulisan.
2) Guru memutar rekaman percakapan duaorang penutur asli (al-nathiq al-ashli). Selanjutnya guru menanyakan isi rekamanitu. Pertanyaan yang diajukan dalam poinini lebih mendetail dibandingkan denganpoin diatas.
3) Guru memutar rekaman percakapanseseorang, misalnya percakapan dalamtelepon. Dalam percakapan ini yangterdengar hanya satu orang, sedangkankata-kata lawan bicaranya tidak terdengar. Para pelajar mendengarkan percakapan ini dengan seksama, lalu mereka diminta untukmenebak apa yang dikatakan oleh lawanbicara orang itu.
3.4 Fase pemahaman lanjutan
Pada fase ini para pelajar diberi latihan untuk mendengarkan berita-berita dari radioatau TV. Bisa juga mendengarkan komentar- komentar tentang hal ihwal tertentu yangdisiarkan oleh radio atau TV. Selain itu bisajuga dalam bentuk menyimak rekaman tentangkegiatan tertentu yang bisa disajikan di laboratorium. Dalam kegiatan ini para pelajar dianjurkan untuk mendengarkan sambil membuat catatan mengenal fakta-fakta tertentuyang terjadi selama kegiatan yang terekamdalam kaset seperti nama, tanggal, tahun, tempat, waktu, dan sebagainya. Hal ini dilakukan untuk menolong mereka dalam mengingat. Setelah itu mereka ditugaskan untuk membuat ringkasan berbahasa Arab yang mereka kuasai tentang inti pembicaraan.
3.5 Penilaian/Taqwim
Ketika fase-fase di atas sudah dilaksanakan, dilanjutkan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi istima’ barulah penilaian dapat dilaksanakan. Secara garis besar penilaian dalam istima’ berhubungan dengan tujuan dan kemahiran dalam pembelajaran istima’ yang sudah disusun guru bahasa Arab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar